Lynx terdiam sejenak, matanya membelalak sangat lebar mendengar kata-kata yang diucapkan Leena itu. "Kamu... Jadi sebenarnya kamu sudah tahu tentang pakaian tempur ini dari awal?" tanyanya dengan suara penuh keheranan yang sulit disembunyikan.

Leena dan Lala saling bertukar pandang dengan senyum kecil lalu tertawa lembut serempak, seperti sudah lama menyimpan rahasia itu. "Iya, tentu saja aku sudah tahu. Kami berdua sudah bekerja sama dengan serius memodifikasi pakaian tempur ini," jawab Leena sambil tersenyum bangga dan penuh percaya diri.

Lala segera menimpali dengan nada ceria, "Kamu harus tahu, butuh kekuatan besar untuk membuatnya bekerja sesuai keinginan. Berkat Leena, pakaian tempur ini jadi bisa diselesaikan dan memiliki kemampuan warna pakaian berubah-ubah mengikuti elemen energi yang sedang kamu gunakan. Warna hijau dan hitam ini adalah warna dasar sebelum merasakan elemen darimu. Ini adalah hadiah spesial kami untukmu, Lynx. Kami perhatikan kamu selalu terlihat sangat gembira saat berubah wujud."

Lynx tersenyum malu-malu, wajahnya berubah sedikit memerah, dan dia membayangkan jika saja Lala dan Leena bisa melihat ekspresi wajahnya yang sebenarnya tersembunyi di balik helm, pasti mereka akan semakin menertawakannya.

Lala tertawa kecil dengan nada riang, "Leena bilang di dunia kalian ada film tentang tokoh yang mirip dengan desain pakaian ini. Itu sebabnya dari banyak desain yang kami pertimbangkan, ini yang akhirnya kami pilih. Selain itu, kami juga menambahkan tanda huruf P di dada sebagai singkatan dari Plasura."

Meski merasa malu, namun Lynx sangat senang dan berkata, "Terimakasih banyak, Leena, dan juga Lala, aku benar-benar menghargainya."

Lala mendekat sambil berbisik lembut penuh seloroh, "Jangan lupa hadiahnya ya. Aku pasti akan menagihnya nanti," katanya sambil tersenyum nakal.

Lynx menganggukkan kepala penuh rasa terima kasih, "Aku memang harus berterima kasih banyak atas hadiah istimewa dari kalian berdua. Setelah ini aku harus segera memasang formasi ilusi seperti yang aku lakukan dengan pakaian tempur sebelumnya," batinnya dalam hati.

"Lalu apa hubungannya pakaian baru ini dengan menyerangku pertama kali?" Tanya Lynx dengan nada protes.

Wajah Leena memerah merasa malu dengan sikapnya sendiri, namun sebagai wanita dia tidak mau meminta maaf. Leena mengalihkan pembicaraan dan menatap Lynx dengan serius. "Lynx, sesuai pesanmu tadi, para tetua sudah diberitahu. Mereka akan kumpulkan semua penduduk di lapangan tengah hari nanti."

"Berkumpul? Ada apa?" tanya Lala dengan penasaran.

Leena mengangkat kedua bahunya tanda tidak paham,"Aku hanya mengikuti apa yang dia suruh."

"Bagus sekali. Tapi sebelum itu, aku harus mempersiapkan sesuatu yang penting dulu. Kalian tahu di mana Arkha sekarang? Aku sangat membutuhkan bantuannya," kata Lynx sambil menatap tajam ke arah Lala dan Leena.

Leena tersenyum sedih dan menatap Lala dengan pandangan penuh arti.

Lala segera menggerakkan jari-jarinya dengan cepat mengendalikan sistem kontrol, mengarahkan kamera ke sudut ruangan yang jauh. Di layar monitor, terlihat seorang pria bertubuh kekar berdiri diam penuh perhatian menatap seorang wanita yang tertidur dalam balutan es keabadian. Lala memperbesar tampilan hingga terlihat jelas wajah pria itu yang penuh kesedihan mendalam.

Lynx terkejut dan langsung berseru, "Arkha? Apa yang sedang dilakukannya di sana?"

"Kamu memang kurang peka, Lynx," kata Lala dengan nada kesal. "Itu Rira. Kamu pasti tahu bagaimana perasaan Arkha selama ini terhadap Rira. Itu sebabnya tanpa sepengetahuan siapa pun, diam-diam Arkha datang ke sini untuk sekedar memandangi Rira."

"Lynx, kamu harus segera menyelamatkan mereka berdua. Aku tidak sanggup melihat betapa dalamnya penderitaan yang mereka alami," kata Leena dengan suara penuh kesedihan.

Lynx terdiam, matanya terpaku pada layar monitor di depannya.

***

Tengah hari tiba. Di stadion luas yang baru selesai dibangun beberapa jam lalu, Lynx berdiri di atas panggung kecil. Stadion itu sederhana, mengelilingi lapangan seperti pagar desa, tapi cukup luas untuk berkumpulnya ribuan penduduk. Lynx tidak hanya ingin membangun tempat pertemuan. Ia punya rencana besar membawa olahraga sepakbola ke dunia kultivator, sesuatu yang belum dikenal di sini. Selain hiburan, sepakbola bisa menjadi alat untuk pertandingan dan membangun semangat kebersamaan. Di dunia ini, penduduk lebih sibuk dengan latihan kultivasi dan bekerja, sehingga olahraga seperti ini belum dikenal. Melalui penduduk Suku Surya, Lynx berharap membawa angin perubahan.

Awalnya dia ingin membuat bentuk tribun stadion seperti di dunianya, dimana kursi berjenjang mengelilingi stadion untuk tempat duduk para penduduk, namun Lynx tak sepenuhnya percaya kekuatan tanah bisa menopang beban ribuan orang, jadi ia berencana memberi tugas pada Kael dan Arkha untuk bekerja sama dengan para penduduk untuk perkuat struktur atau membangun ulang dengan material yang lebih kuat.

Di hadapan ribuan penduduk Suku Surya yang duduk di bangku tanah, Lynx memandang mereka satu per satu. Hanya tersisa orang tua, anak-anak, dan beberapa pemuda beruntung yang dianggap tak berguna oleh para penyihir, itulah sebabnya mereka selamat. Wajah Lynx muram, tak mampu membayangkan berapa banyak nyawa telah terenggut sia-sia.

Belasan tetua duduk di barisan depan, bersama Leena, Arkha, Kael, dan lainnya.

"Apa yang ingin dikatakan kepala suku?" suara dari kerumunan terdengar.

"Benar, tak biasa kita dikumpulkan seperti ini."

"Apakah keluarga kita dalam bahaya?"

Bisik-bisik penuh ketegangan dan cemas menggema di antara para penduduk.

Lynx mengangkat tangan memberi tanda semua diam. Semua langsung terhenti, menunggu dengan napas tertahan.

Setelah menarik napas panjang dan mengelilingi pandangannya, Lynx mulai bicara.

"Sengaja aku kumpulkan kalian semua di sini dan sekarang, karena aku ingin dengar pendapat kalian tentang keluarga kita yang sedang tertidur dalam peti es keabadian."

Para penduduk saling berpandangan, bertanya dalam hati, tapi memilih diam. Mereka sederhana, namun tahu cara menghormati pemimpin.

"Tapi sebelum itu, aku ingin tanya. Adakah di antara kalian yang sudah tak lagi menyayangi keluarga mereka yang kini menanti untuk dibangunkan?" Lynx tatap mereka satu per satu. Pertanyaan itu membuat wajah para penduduk berubah bingung dan saling bertukar pandang.

Seorang pria tua angkat bicara, "Kami sayang pada anak-anak kami. Kami berharap mereka segera bangun dan selamat."

"Kami juga!"

"Kami juga!"

Suara serupa menggema di seluruh stadion. Hampir semua menyatakan hal yang sama.

Lynx mengangkat tangan lagi, memberi tanda tenang.

"Aku tahu kalian sangat merindukan dan menyayangi keluarga kalian. Tapi tahukah kalian apa yang aku lihat akhir-akhir ini? Banyak di antara kita lupa hal penting tentang mereka yang tertidur."

Wajah penduduk berubah makin bingung. Bahkan Arkha melirik Lala seolah mencari penjelasan.

"Kepala suku, hal apa yang sudah kami lupakan?" tanya tetua Ayunga mewakili rasa penasaran semua orang.

Lynx diam sebentar, memberi waktu agar mereka mencerna kata-katanya. Para penduduk saling berbisik, bertanya, lalu memilih diam menunggu kelanjutan.

Lynx kemudian melanjutkan, "Hal penting yang kalian semua lupakan adalah bahwa cepat atau lambat, mereka pasti akan terbangun. Mereka akan menemui kita dan kembali bersama seperti dahulu. Karena itu, apakah kalian ingin mereka terbangun dan melihat desa kita dalam keadaan seperti sekarang? Atau kalian ingin saat mereka terbangun nanti, mereka melihat desa kita sudah jauh lebih maju dan makmur sehingga membuat mereka bahagia?"

"Kami mau mereka bahagia!"

"Iya, kami setuju!"

Suara riuh gembira menggema. Para penduduk mulai bangkit semangatnya.

"Kalian semua harus berhenti bersedih. Kita harus bangun desa ini bersama-sama. Kita buat lebih besar, lebih kuat, lebih indah. Agar ketika mereka terbangun, mereka tak kecewa, malah bangga pada kita," Lynx berkata dengan tegas, penuh semangat membara.

Para tetua mengangguk mantap. Mereka paham maksud kepala suku. Beberapa hari terakhir ini suasana muram meliputi desa Surya karena kesedihan yang berkepanjangan. Kini mereka melihat wajah-wajah yang mulai bersinar dengan harapan.

Saat Lynx ingin melanjutkan, tiba-tiba di kejauhan ratusan kilometer dari desa, sebuah formasi yang dia tanam tergerak. Lynx merasakan energi fluktuasi, lalu memanggil Leena.

"Sayang, ada tamu tak diundang. Aku harus cek dulu. Kamu ajak para tetua teruskan arahkan penduduk."

Tanpa menunggu jawaban, Lynx menghilang, segera menuju titik bahaya yang ia rasakan.

